PESAN DAKWAH PADA UPACARA ADAT KARIA DI KECAMATAN NAPABALANO KABUPATEN MUNA

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Era digitalisasi merupakan ungkapan untuk menggambarkan kehidupan masa kini. Era ini menyentuh semua dimensi kehidupan termasuk dunia dakwah. Tidak ketinggalan beragam media (washilah) dan cara yang dilakukan para da’i dalam menyampaikan dakwah agar pesan yang disampaikan kepada mad’u berjalan efektif. Mulai dari yang klasik sampai yang modern.

Namun dengan perkembangan zaman tersebut, hal-hal yang secara turun temurun dalam masyarakat kadang kurang diberdayakan bahkan terabaikan misalnya suatu kebudayaan atau bagian dari budaya yang sering dikenal dengan adat istiadat. Mengingat negara kita Indonesia merupakan negara kepulauan yang memungkinkan setiap daerah memiliki latar belakang sosial, ekonomi, suku, budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain.

Letak geografis yang seperti ini dapat menjadikan budaya sebagai sarana untuk menyampaikan pesan.

Budaya berasal dari kata sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa inggris, kata budaya berasal dari kata culture.[1] Suatu kebudayaan ialah cara berpikir dan merasa, menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk masyarakat dalam suatu ruang dan suatu waktu.[2] Jadi, budaya dapat disimpulkan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia itu sendiri.

Faktor kebudayaan sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian manusia. Dalam kebudayaan itu terdapat norma-norma dan nilai-nilai yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat. Kepribadian tidak dapat dipahami terlepas dari nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan tersebut karena hakikatnya kepribadian adalah susunan daripada aturan tingkah laku dalam pola respon yang konsisten.[3]

Menurut Koentjaraningrat yang dikutip oleh Elly M. Setiadi dan kawan-kawan, bahwa kebudayaan dibagi dalam tiga wujud salah satunya yaitu wujud sebagai suatu kompleks ide-ide , gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan. Kebudayaan ini dapat disebut adat atau adat istiadat.[4]

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dilihat bahwa adat merupakan bagian dari budaya, namun adat adalah sebuah budaya yang dipercaya dan diyakini ada sejak turun temurun. Adat istiadat merupakan kebiasaan-kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib ataupun sopan santun. Keberadaan manusia yang merupakan bagian dari masyarakat selain sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk berteknologi, juga merupakan makhluk berbudaya, mempertegas bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kebudayaaan menjadi sarana untuk menyampaikan pesan.

Olehnya itu dikatakan kebudayaan dan masyarakat merupakan dwitunggal yang tak mungkin dipisahkan, seperti pula gerak tangan tak mungkin dipisahkan dari gerak otak, tindakan tak mungkin dipisahkan dari pikiran.[5]

Seni dan budaya Islam sejak dulu bisa menjadi media efektif untuk melakukan dakwah Islam. Walisongo telah melakukan seni dan budaya Islam sebagai media dakwah, sehingga pulau Jawa yang dulunya mayoritas Hindu Budha sekarang menjadi mayoritas Islam berkat dakwah yang efektif dari Walisongo.[6]

Salah satu peran budaya adalah mengatur hubungan antar manusia atau antar warga masyarakat, yang memiliki sifat abstrak dan juga konkrit. Abstrak atau tidak nampak yang masih bersifat ide tapi ada yang dapat dilihat secara langsung dengan cara berbuat dan bertindak masyarakat. Cara berlaku dan berbuat terbentuk oleh kebiasaan dan adat. Kebiasaan ialah laku perbuatan yang berulang kali dikerjakan, sehingga menjadi kelaziman. Apabila kebiasaan menjadi dasar bagi hubungan antara warga masyarakat, sehingga ia menjadi kaidah yang mengatur laku perbuatan mereka, kebiasaan itu meningkat menjadi adat.[7] Adat secara bahasa yaitu aturan yang lazim dituruti atau dilakukan sejak dahulu kala, cara (kelakuan) yang sudah menjadi kebiasaan. Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan yang lain berkaitan menjadi suatu sistem.[8]

Adat berfungsi untuk menegakkan keseimbangan (harmoni) dalam masyarakat.[9] Berbicara tentang salah satu fungsi adat seperti diatas, tidak semua orang dapat memahaminya dengan baik dan benar. Hal ini terlihat jelas pada realitas yang terjadi dengan perkembangan zaman masa kini pada semua aspek kehidupan mulai dari masyarakat perkotaan sampai pedesaan.

Kabupaten Muna misalnya yang mana penduduknya mayoritas beragama Islam. Muna merupakan Kabupaten kepulauan yang terletak dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Terdapat beberapa kecamatan didalamnya salah satu diantaranya adalah Kecamatan Napabalano. Daerah kecamatan ini merupakan jalan akses menuju ibu kota provinsi yakni Kendari, karena di daerah inilah terdapat pelabuhan yang menjadi tempat berlabuh dan bertolaknya kapal sebagai sarana transportasi khususnya masyarakat Muna.

Masyarakat Napabalano ditinjau dari tingkat pendidikannya mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, sebagian besar sudah atau sedang menempuh perguruan tinggi utamanya ganerasi muda. Secara umum generasi muda merupakan aset suatu bangsa dan daerah secara khusus, apalagi jika diberdayakan dengan benar. Dengan perkembangan tersebut tidak bisa dipungkiri merubah cara berpikir dan berbuat seseorang.

Saat ini, kenyataan inilah yang terjadi pada masyarakat Napabalano, karena sudah banyak yang menempuh pendidikan tinggi didukung dengan lingkungan perkotaan yang menjadi tempat untuk menggali dan mengembangkan diri, sehingga secara sadar ataupun tidak pemahaman dan hal-hal lainnya sedikit tergeser, misalnya tradisi atau adat istiadat dalam masyarakat. Dewasa ini tidak jarang orang yang berpikir bahwa adat sebagai suatu hal yang mengandung bentuk syirik, tahayyul, bid’ah maupun khurafat. Meskipun demikian warga Napabalano masih dapat digolongkan sebagai masyarakat tradisional karena masih melestarikan kebudayaan-kebudayaan daerah, salah satunya ialah upacara adat karia.

Upacara adat karia ialah upacara yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Muna sebagai proses pembekalan dan pembelajaran untuk bersikap baik dan benar kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Pada upacara adat karia ini yang menjadi peserta adalah kaum hawa atau perempuan yang akan mengalami masa transisi dari remaja ke dewasa, atau dari dewasa yang menjelang menikah. Dalam proses pelaksanaannya melibatkan hampir semua elemen masyarakat seperti pejabat pemerintah, tokoh adat, tokoh agama dan semacamnya.

Gambaran diatas dapat dilihat bahwa upacara adat karia merupakan tradisi atau adat istiadat yang termasuk sakral bagi masyarakat suku Muna. Apalagi dengan melibatkan beberapa elemen penting masyarakat dalam proses pelaksanaannya, tentu upacara adat karia ini bukan tradisi yang biasa saja atau sekedar perayaan tanpa makna. Meskipun demikian, dalam prosesinya karia bukan berarti tanpa hambatan, sejauh ini walaupun belum mengarah pada bentuk tindakan tapi konflik pemikiran sudah terjadi khususnya dikalangan masyarakat Napabalano. Berdasarkan realitas yang telah digambarkan di atas, olehnya itu penulis tertarik untuk mengangkat judul Pesan Dakwah Pada Upacara Adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana proses upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna?
2. Mengapa upacara adat Karia tetap eksis di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna?
3. Bagaimana pesan dakwah pada upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna?

C. Defenisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian

Pembahasan dalam penelitian ini sebagai upaya untuk memudahkan dan mengarahkan pemahaman kita tentang judul, maka penulis akan menguraikan beberapa makna yang menjadi unsur-unsur pokok dalam pembentukan judul Pesan Dakwah Pada Upacara Adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna sebagai berikut:

1. Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan pengirim kepada penerima, pesan tersebut bisa dalam bentuk ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasehat atau propaganda.[10] Dalam hal ini penelitian ini yang dioperasionalkan adalah pesan verbal maupun non verbal yang terdapat pada upacara adat karia.

2. Dakwah merupakan proses rekayasa sosial menuju tatanan masyarakat ideal sesuai dengan pesan-pesan Tuhan, seperti apa yang termaktub dalam firman-firman-Nya ataupun sabda utusan-Nya.[11] Dakwah yang dimaksud disini sudah jelas yang mengarahkan kepada kebaikan atau keselamatan (Islam).

3. Upacara yaitu rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan tertentu menurut adat atau agama, perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan sehubungan dengan peristiwa penting.[12] Upacara yang dimaksud disini ialah kegiatan yang dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sudah disepakati dalam suatu masyarakat.

4. Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan yang lain berkaitan menjadi suatu sistem.[13] Dalam hal ini adat yang menjadi kebiasaan masyarakat secara turun temurun, yang dianggap dan dipercaya berguna bagi masyarakat.

5. Karia menurut kaidah bahasa Muna berasal dari kata kari yang artinya sikat atau pembersih. Sedangkan makna secara konkrit bahwa kata karia (Muna) berarti ribut atau keributan atau karia adalah ramai atau keramaian. Secara umum memiliki arti pingitan. Pingitan adalah sebuah lembaga pendidikan yang harus diikuti oleh remaja putri yang telah mengalami haid atau akil baligh, yaitu usia yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, atau ketika manusia akan dibalas pahala apabila berbuat kebaikan dan dibebani dosa bila berbuat keburukan.

6. Upacara adat karia adalah rangkaian perbuatan atau pesta adat yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Muna sebagai proses pembekalan dan pendidikan yang diperuntukkan untuk anak perempuan yang telah mengalami masa haid biasanya usia 15 tahun ke atas dan yang menjelang menikah.

Penelitian ini diorientasikan untuk mengetahui pesan-pesan dakwah pada upacara adat karia baik pesan verbal maupun non verbal.

D. Penelitian-Penelitian Terdahulu

Berikut penjelasan singkat tentang penelitian terdahulu,yang menggunakan paradigma dan metode penelitian yang berbeda. Hal ini penulis lakukan untuk menekankan bahwa penelitian ini tidak sama dengan penelitian terdahulu.

Penelitian tentang upacara adat karia yang mengungkapkan pesan dakwahnya baik verbal maupun non verbal belum ada yang membahasnya. Dengan penelitian terdahulu mempunyai persamaan dan perbedaan pada hal-hal tertentu.

1. Adapun penelitian terdahulu yaitu “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Adat Kokaria di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara” oleh Ilias Tona. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar ini mengungkap Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Adat Kokaria menggunakan metode kualitatif dengan mengeksplorasi data. Sedangkan penulis mengungkap Pesan Dakwah pada Upacara Adat Karia baik verbal maupun non verbal secara deskriptif masalah dengan melihat fenomena sosial. Selain itu, lokasi penelitian Ilias Tona di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna, sedangkan penulis di Kecamatan Napabalano. Karena menurut La Aris terkadang terdapat perbedaan antara kecamatan yang satu dengan yang lainnya meskipun tipis, hal ini disebabkan belum adanya pedoman tentang karia khususnya secara tertulis. Mengingat karia merupakan adat istiadat yang dititipkan oleh orang-orang tua Muna dahulu kepada generasi sekarang maupun yang akan datang, selama ini kebanyakan hanya melalui pendengaran dan cerita dari generasi ke generasi.[14]

2. “Pesan Dakwah dalam Film Sang Pencerah, yang menggunakan analisis semiotika, skripsi Andi Muhammad Idham mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin menguraikan pesan dakwah dari sisi akhlak, yang merupakan konstruksi relasi diri, meliputi akhlak terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia dan akhlak kepada Allah SWT. Persamaan dengan penelitian penulis yaitu sama-sama mengungkap pesan dakwah dari sisi akhlak, akan tetapi objek yang berbeda. Penulis sendiri mengungkapkan pesan dakwah pada Upacara Adat karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.

3. Skripsi Nahdatunnisa Asry yaitu “Pesan Dakwah dalam Film Ketika Cinta Bertasbih 1” mahasiswa di Universitas Islam Negeri Alauddin pada fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Nahdatunnisa Asry mengungkap pesan dakwah dari sisi akhlak pula yang menyamakannya dengan penelitian penulis akan tetapi objek yang berbeda. Adapun penulis mengungkapkan pesan dakwah pada upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain :

1. Untuk memahami proses upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.
2. Untuk memahami bentuk komunikasi upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.
3. Untuk memahami pesan dakwah pada upacara adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.

F. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang dakwah dan komunikasi.
2. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi jembatan bahwa pesan dakwah terdapat pula pada tradisi atau adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat bukan sekedar ceremonial saja.

G. Garis-Garis Besar Isi Skripsi

Sebagai gambaran awal tentang isi skripsi maka penulis dapat memberikan penjelasan sekilas tentang gambaran atau garis-garis besar isi skripsi sebagai berikut :

Bab pertama dimulai dengan pendahuluan yang mejelaskan tentang latar belakang mengapa penulis memilih judul tersebut untuk diteliti dan dibahas secara mendalam. Selanjutya menarik rumusan masalah, kemudian defenisi operasional dan ruang lingkup penelitian dilanjutkan dengan penelitian terdahulu serta tujuan dan kegunaan penelitian, selanjutnya garis-garis besar isi skripsi.

Bab kedua penulis menguraikan kajian pustaka tentang media dakwah dalam hal ini Upacara Adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna dan pemikiran-pemikiran serta teori yang berkaitan dengan judul penulis.

Bab ketiga menguraikan metode penelitian yang meliputi jenis dan lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.

Bab keempat memuat pembahasan dari hasil penelitian. Yang meliputi pembahasan yang menjelaskan tentang Pesan Dakwah pada Upacara Adat Karia di Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna.

Bab kelima memuat kesimpulan akhir sebagai jawaban atas semua batasan masalah yang telah dirumuskan oleh peneliti untuk dapat dikembangkan pada masa yang akan datang dan diakhiri dengan implikasi penelitian.
---------------------------------------------------------------------------------

[1] Elly M.setiadi, Kama A. Hakam, Ridwan Effendy, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Ed.2;Cet.2;Jakarta: Kencana, 2007), h. 27.

[2] Sidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiografi ( Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h. 24.

[3] M. Arifin, Psikologi Dakwah suatu pengantar studi ( ed.1; cet. 6; Jakarta: Bumi Aksara,2004), h. 124.

[4] Elly M.setiadi, Kama A. Hakam, Ridwan Effendy, op-cit. h. 28-29.

[5] Sidi Gazalba, op. cit., h. 50.

[6]http://www.suara-islam.com/2011/09/21/news/berita/nasional/3635/seni-dan-budaya-islam-bsa-jadi media-dakwah (12 Februari 2012)

[7] Sidi Gazalba, loc. cit.

[8] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Ed. VI; Cet. 1; Jakarta: PT. Gramedia, ) h. 1533

[9] Sidi Gazalba, op. cit., h. 51.

[10] Arifuddin Tike, Dasar-Dasar Komunikasi (Suatu Studi dan Aplikasi), (Cet. 1; Yogyakarta: Kota Kembang, 2009), h. 19-20.

[11] Asep Saeful Muhtadi dan Agus Ahmad Safei, Metode Penelitian Dakwah (Cet. 1; Bandung: Pustaka Setia, 2003), h. 15.

[12] Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., h.1553.

[13] Ibid, h. 8

[14] La Aris, Kepala Seksi Ketertiban Kecamatan Napabalano. (Wawancara: tanggal 23 juni 2012).
Read more »

Meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia melalui pendekatan tutor sebaya pada siswa kelas VII D SMP Negeri 02 Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Dewasa ini pemerintah sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan melaksanakan sistem pendidikan nasional. Sasaran utama sistem pendidikan nasional adalah terciptanya pemerataan dalam memperoleh pendidikan di seluruh pelosok tanah air, sehingga diperoleh manusia yang berpendidikan dan mempunyai kualitas serta dapat mewujudkan cita-citanya.

Bahasa Indonesia sebagai salah satu cabang ilmu yang dinilai dapat memberikan konstribusi positif dalam memacu ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia mempunyai peranan yang sangat esensial untuk ilmu lain, utamanya sains dan teknologi, sehingga bahasa Indonesia menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, para siswa dituntut untuk menguasai bahasa Indonesia. Karena pembelajaran bahasa Indonesia di arahkan untuk meningkatkan kemampuan pelajar dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, hal ini relevan dengan kurikulum 2004. Bahwa kompetensi belajar bahasa di arahkan kedalam 4 sub aspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.

Adapun profil pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia kelas VII D SMP Negeri 02 Bulukumpa yaitu berjumlah 29 siswa pada tahun 2010-2011 hanya 45% yang mampu memahami materi kalimat langsung dan tak langsung memahami materi kalimat langsung dan kalimat tak langsung karena siswa malu untuk bertanya kepada guru tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita bahasa Indonesia masih rendah, hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai bahasa Indonesia siswa kelas VII D semester I tahun pelajaran 2010/2011 yaitu 5,6. Dibawah standar (kkn) krateria ketuntasan minimal dengan jumlah siswa 29 orang.

Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan materi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi dalam perbaikan dengan menawarkan kepada guru untuk menerapkan pendekatan tutor sebaya utamanya untuk pokok bahasan kalimat langsung dan tak langsung.

Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya. Penggunaan pendekatan tutor sebaya dalam menyelesaikan soal-soal bahasa Indonesia merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan dapat memberi peran aktif serta motivasi kepada siswa, agar mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh materi yang diberikan. Sehingga diharapkan dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya ini, siswa lebih mudah menyerap materi yang diajarkan dan pada akhirnya siswa tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal bahasa indonesia.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba mengadakan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Menurut Arikunto Suharsimi.(2006: 13), bahwa Penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang disengaja di munculkan dalam sebuah kelas secara bersama.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah “Bagaimanakah penggunaan pendekatan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia Siswa Kelas I SMP Negeri 02 Bulukumpa Kabupaten Bulukumba?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui penggunaan pendekatan tutor sebaya pada Siswa Kelas I SMP Neferi 02 Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi guru : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini guru dapat sedikit demi sedikit mengetahui pendekatan pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas.

2. Bagi siswa : hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi siswa, yaitu mempermudah siswa dalam menyelesaikan soal-soal bahasa indonesia.

3. Bagi sekolah : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran.
Read more »

Urgensi manajemen Dakwah dalam upaya Pengembangan dan Memakmurkan Masjid di desa Cakura kecamatan Polombangkeng Selatan kabupaten Takalar


ABSTRAK


Nama : Muh Asdar
Nim : 50400107007
Jurusan : Manajemen Dakwah
Judul : Urgensi manajemen Dakwah dalam upaya Pengembangan dan Memakmurkan Masjid di desa Cakura kecamatan Polombangkeng Selatan kabupaten Takalar


Dakwah merupakan upaya sosialisasi dan internalisasi ajaran Islam yang mengalami perkembangan, baik dalam tataran metode, strategi, maupun modelnya. Perkembangan dakwah dilakukan oleh berbagai organisasi sosial keagamaan dengan menempuh berbagai corak, begitupun dengan jamaah tabligh.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis akan membahas tentang masjid, mulai dari bagaimana pentingnya manajemen masjid dalam upaya pengembangan dan memakmurkan masjid, bagaimana hubungan manajemen masjid dengan fungsi masjid dan bagaimana upaya-upaya yang harus dilakukan didalam pengembangan dan memakmurkan masjid serta faktor-faktor penghambat dalam rangka pengembangan dan memakmurkan masjid di desa Cakura kecamatan Polombangkeng Selatan kabupaten Takalar.

Dalam penelitian, penulis menggunakan metode penelitian kualitatifyang dianggap relevan dan akurat yang berkenaan dengan pembahasan skripsi ini, yaitu dengan memilih populasi untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini, kemudian dalam pelaksanaan penelitian diterapkan metode pengumpulan data dengan menggunakan teknik kepustakaan dan penelitian lapangan yakni dengan melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengetahui gejala-gejala yang terjadi di lapangan serta dengan menggunakan teknik wawancara dimana penulis di dalam mendapatkan data-data menggunakan pedoman kuisioner untuk memperoleh informasi berupa fakta yang terangkai dalam pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk dijawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya manajemen masjid di dalam pengembangan dan memakmurkan masjid, hubungan manajemen masjid dengan fungsi masjid serta mengetahui upaya-upaya yang dilakukan didalam pengembangan dan memakmurkan masjid serta faktor-faktor yang menjadi penghambat didalam pengembangan dan memakmurkan masjid di desa Cakura kecamatan Polombangkeng Selatan Kabupaten Takalar. 
 
Download Full SKRIPSI File Type DOC :
 http://www.4shared.com/rar/9vUudqAb/Sentral_edukasi_skripsi_Koleks.html
 

Read more »

INTEGRASI BUDAYA ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL DALAM UPACARA PERKAWINAN DI KABUPATEN PANGKEP (TINJAUAN BUDAYA)

ABSTRAK

Nama : Hasriana
Nim : 40200106003
ABSTRAK
Judul : Integrasi Budaya Islam Dengan Budaya Lokal Dalam Upacara Perkawinan Di Kabupaten Pangkep

Skripsi ini membahas mengenai perkawinan dalam rana wilayah lokal yaitu Kabupaten Pangkep sebagai suatu upaya menggali dan menanamkan kembali nilainilai kearifan lokal dalam pembentukan karakter dan identitas suatu daerah. Merupakan suatu hasil kajian sejarah budaya yang secara khusus membahas mengenai integrasi budaya Islam dengan budaya lokal dalam upacara perkawinan, memaparkan tahapan awal hingga akhir prosesi adat dibalik pesta dan perayaan perkawinaan dalam hal ini mengungkap bagaimana prosesi perkawinan adat yang dibenturkan dengan budaya Islam.
Memberikan pemahaman mengenai upacara perkawinan sebagai suatu proses integrasi atau proses percampuran kebudayaan yang bukan berarti menghilangkan atau memotong unsur-unsur yang ada tetapi selektif terhadap unsur-unsur yang ada. 
Bila unsur yang ada tidak bertentangan dengan dengan prinsip Islam maka unsurunsur tersebut harus tetap ada, tetapi bila unsur yang ada itu bertentangan dengan dengan prinsip Islam, maka unsur tersebut harus dihilangkan.

Download Full SKRIPSI File Type PDF Dalam 1 File RAR :
http://www.4shared.com/rar/5OYf_Klq/Sentral_edukasi_skripsi_Koleks.html
Read more »

Pertimbangan Penetapan Harga (Studi Kasus Pedagang Beras di Pasar Tradisional Limbung Kabupaten Gowa


ABSTRAK

Nama Penyusun : Dewi Sartika Yasim
NIM : 10200107019
Judul Skripsi : Pertimbangan Penetapan Harga (Studi Kasus Pedagang Beras di Pasar Tradisional Limbung Kabupaten Gowa)”, 
------------------------------------------------------------------------
Skripsi ini adalah studi tentang Pertimbangan Penetapan Harga (Studi Kasus Pedagang Beras di Pasar Tradisional Limbung Kabupaten Gowa)”. Permasalahan pokok yang terfokus permasalahan adalah gambaran model penetapan harga pedagang beras dan faktor-faktor yang memengaruhi pertimbangan pedagang beras dalam menetapkan harga beras di pasar tradisional Limbung kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model penetapan harga pedagang beras di pasar tradisional Limbung kabupaten Gowa, mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan pedagang beras dalam menetapkan harga dagangannya di pasar tradisional Limbung kabupaten Gowa. mengembangkan suatu teori dalam ekonomi islamyang berkaitan mengenai pertimbangan penetapan harga sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlansung 
Untuk memperoleh data yang relevan, maka tipe penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pendekatan studi yang digunakan penulis adalah mekanisme pasar perspektif ekonomi Islam. 
Hasil penelitian menunjukkan suatu model penetapan harga beras yang berjalan secara simultan di pasar tradisional Limbung Kabupaten Gowa, dengan melihat indikator jenis dan varian harga serta proses jual beli beras. Demikian dengan proses jual beli di pasar tradisional Limbung dan persaingan antar-pedagang berjalan dengan kondusif. Tidak terjadi monopoli harga di antara pedagang, karena adanya pengendalian harga atas suatu jenis barang. Karena itu pedagang relatif bebas untuk menentukan harga sesuai kesepakatan dengan pembeli. Demikian dengan sistem pasar di pasar tradisional Limbung dan persaingan antar-pedagang berjalan dengan kondusif. 

Pelbagai faktor yang memengaruhi pertimbangan pedagang beras dalam menetapkan harga beras di pasar tradisional Limbung antara lain; Faktor Produksi, Faktor Penawaran, Faktor Permintaan, Faktor Persaingan, Faktor Kelangkaan Beras, Intervensi Pemerintah, dan Faktor pengaruh Iklim/Musim. Selain itu, terdapat beberapa faktor lainnya yang dapat mempengaruhi harga beras menjadi tidak normal di Pasar Tradisonal Limbung. Diantaranya permainan harga yang disebabkan oleh praktik monopoli dan persaingan tidak sehat, penyalahgunaan kelemahan yang terdapat pada diri konsumen seperti keadaan SDM lemah, tidak terpelajar atau keadaan konsumen yang sedang terdesak untuk memenuhi suatu kebutuhannya, penipuan dan informasi yang tidak merata dan transparansi.
Download Full SKRIPSI File Type DOC :

http://www.4shared.com/rar/9vUudqAb/Sentral_edukasi_skripsi_Koleks.html


Read more »

PANCASILA SEBAGAI NILAI DASAR FUNDAMENTAL DAN IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Namun ini terdiri dari dua kata dari kata sangsekerta, Panca berarti Lima dan Sila berarti Prinsip atau Asas.

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh rakyat Indonesia. Lima send utama penyusun sendi pancasilah adalah Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipinpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pancasila

2. Jelaskan pengertian pancasila sebagai sistem filsaf
________________________________________________
 
BAB II
PEMBAHASAN


A. Kesatuan Sila-sila Pancasila Dalam memahami pancasila sebagai dasar negara tidak di artikan satu persatu, tetapi kelima sila itu merupaka satu kesatuan yang integral yang tikad dapat dipisah-pisahkan berdasarkan salahsatu sila saja karena, antara sila kesatu dan lainnya salin berkaitan dan mendukung. Oleh karena itu pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di indonesia
Download Full Makalah File Type DOC :
http://www.4shared.com/office/Uh_wqQxN/PANCASILA_SEBAGAI_NILAI_DASAR_.html
Read more »